Penggagasan
terhadap terminologi perguruan tinggi tidak akan bisa dilepaskan dari suplemen
utama, yaitu mahasiswa. Stigma yang muncul dalam diskursus perguruan tinggi
selama ini cenderung berpusat pada kehidupan mahasiswa. Hal ini sebagai
konsekuensi logis agresivitas mereka dalam merespon gejala sosial daripada
kelompok lain dari sebuah sistem civitas akademika.
Akan
tetapi fenomena yang berkembang menunjukkan bahwa derap modernisasi di
Indonesia dengan pembangunan sebagai ideologinya telah memenjarakan mahasiswa
dalam sekat insitusionalisasi, transpolitisi dan depolitisi dalam kampus.
Keberhasilan upaya dengan dukungan penerapan konsep NKK/BKK itu, pada sisi lain
mahasiswa dikungkung dunia isolasi hingga tercabut dari realitas sosial yang
melingkupinya. Akibatnya, mahasiswa mengalami kegamangan atas dirinya maupun
peran-peran kemasyarakatan yang semestinya diambil. Mahasiswa pun tidak lagi
memiliki kesadaran kritis dan bahkan sebaliknya bersikap apolitis.